Minggu, 07 Maret 2010

TUHAN SETIA PADA JANJINYATUHAN SETIA PADA JANJINYA

TUHAN SETIA PADA JANJINYA

(Mazmur 77:1-21)

Penulis kitab Mazmur pada pasal 77 adalah Asaf. Ia adalah orang pilihan (1Tawarikh.6:31-39). Dari sekian banyak orang Israel pada waktu itu, Raja Daud memilih Asaf untuk melayani Tuhan dan menjadi orang “spesial” dari kebanyakan orang Lewi yang dipilih pada waktu itu, sehingga dia diangkat menjadi Kepala yang memimpin puji-pujian dan syukur di hadapan tabut Tuhan (1Tawarikh.16:1-5).Asaf adalah orang yang pernah mengalami lawatan Allah yang dahsyat, dengan kata lain bahwa Asaf mengalami Pengurapan dan Kemuliaan Tuhan (2Tawarikh.5:12-14). Tetapi Asaf akhirnya mengalami kekecewaan dan kelemahan dalam kehidupannya (Mazmur73). Namun ketika ia mengalami kekecewaan itu, ia menaikan permohonan doa sambil merenungkan kembali pertolongan demi pertolongan yang pernah Tuhan nyatakan dahulu.

“Marilah kita senantiasa merenungkan kasih setia Tuhan yang tak pernah berubah dan tak berkesudahan.”

1. Penyertaan Tuhan Tidak Berubah (ay. 1-16)

Asaf mengatakan bahwa Allah itu baik kepada orang yang tulus hati dan bersih hatinya. Sebagai pemazmur, Asaf mengenal Allah dengan baik, tetapi pada:

Ø ( ayat.2 ) →Asaf mulai merasakan beberapa hal yang membuat dia sakit.

Ø ( ayat.3-12 ) → Asaf mulai memiliki hati yang cemburu dan iri kepada orang-orang yang tidak menyembah Tuhan “sepertinya” hidup mereka enak dan senang.

Ø ( ayat.13-14 ) → Asaf mulai marah kepada Tuhan dengan mengatakan “sia-sia mempertahankan hati yang bersih”.

Ø ( ayat.15-16 ) → Asaf mulai malas dan putus asa untuk komunikasi kepada Tuhan.

Kita sering merasa sama seperti Asaf yang mengalami kekecewaan melihat kenyataan yang menunjukkan orang percaya terpuruk dengan berbagai persoalan sedangkan orang tidak percaya terlihat sangat diberkati. Inilah yang dialami Asaf. Asaf mengajukan beberapa pertanyaaan ada beberapa pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan, yang sepertinya mulai "menyangsikan" campur tangan Tuhan. "Untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak kembali bermurah hati lagi? Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setiaNya, telah berakhirkah janji itu berlaku turun-temurun? Sudah lupakah Allah menaruh kasihan, atau ditutupNyakah rahmatNya karena murkaNya?" Dan satu lagi yang cukup "tajam", dia katakan "Inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan kanan Yang Maha tinggi berubah."

Keraguan yang dialami Asaf ketika menanti pertolongan Tuhan berubah menjadi suatu pengharapan ketika ia berusaha merenungkan kebaikan Tuhan di mana penyertaan Tuhan sesungguhnya tidak pernah berubah.

2. Kasih Setia Tuhan Telah Terbukti dan Terus Berlangsung

Kita menyangka bahwa di bagian akhir Mazmur itu, sebagaimana yang biasanya ada pada Mazmur-Mazmur Daud, akan disebutkan tentang pertolongan Tuhan. Namun tidak demikian dalam Mazmr Asaf. Yang ditemukan hanyalah cerita tentang keperkasaan Tuhan (yang dulu pernah dialami, atau mungkin sekedar pernah didengar oleh Asaf). Mazmur 78 dengan panjang lebar menguraikan pelajaran yang bisa diambil dari sejarah tentang campur tangan Allah, tapi tetap saja mazmur itu di akhir dengan doa, permohonan akan campur tangan Allah sekarang -- yang menandakan bahwa Asaf belum menemukan pertolongan itu. Saat kita meneliti (singkat) mazmur-mazmur tulisan Asaf yang lain, hampir seluruhnya memang pada intinya merupakan doa memohon pemulihan dari Allah. Namun, ayat 17-28 merupakan jawaban yang diperoleh Asaf dari pergumulannya itu. Jawaban inilah yang menguatkan hatinya, yaitu:

Ø ( ayat.17 ) → Asaf mulai melihat masalah dan memandang segala sesuatunya dari sudut pandang Allah.

Ø ( ayat.18-23 ) → Asaf mulai mengerti keadaan sekelilingnya dan mengatakan bahwa ia lebih dari semua orang fasik karena dia memiliki Allah.

Ø ( ayat.24 ) → Asaf menyadari bahwa Allah telah menuntun dan mengangkat dia ke dalam kemuliaan.

Ø ( ayat.25-28 ) → Asaf tidak lagi merasa cemburu kepada orang-orang fasik tetapi dia mengarahkan matanya ke sorga.

Ada 4 tokoh Alkitab yang disebutkan oleh Asaf untuk mengenang bagaimana Tuhan telah menyatakan kasih setia-Nya kepada mereka. Tuhan telah berjanji untuk menyertai umat-Nya dan ini telah dimulai sejak masa semula kepada nenek moyang Israel yaitu Yakub, Yusuf dan Musa serta Harun. Mereka telah mengalami bagaimana Tuhan meyertai mereka secara luar biasa. Masa-masa tersulit sekalipun telah terlewati sebagai bukti bahwa Tuhan tetap setia kepada janji-Nya. Inilah yang menjadi pegangan Asaf. Jikalau dahulu Tuhan pernah menyatakan kemurahan hati-Nya, maka kebaikan itu akan terus terjadi!

Kita akan menjadi warga Kerajaan Allah yang kuat jika kita dapat mengatakan bahwa Allah itu baik dalam setiap keadaan yang menimpa kita. Memang ada kalanya keadaan di sekeliling kita tidak berubah, tetapi belajar seperti Asaf yang telah mendapatkan jawabannya. Dia tidak lagi melihat kepada hal-hal yang sementara tetapi dia mulai melihat kepada hal-hal yang kekal. Ingatlah! Seringkali kita berdoa supaya Tuhan mengubah keadaan yang kita hadapi tetapi Tuhan tidak mengubah keadaan yang kita hadapi, melainkan Tuhan mau mengubah hati dan pikiran kita terlebih dahulu untuk kita menjadi siap menghadapi segala keadaan dan tantangan dalam hidup ini. Amin

BERPIKIR SEPERTI PAULUS


BERPIKIR SEPERTI PAULUS

(Filipi 3:1-14)

Paulus menulis surat Filipi dengan penuh optimis dan hati yang penuh sukacita, sebab ia mendengat tentnag kasih dan pengorbanan dari pada jemaat yang mula-mula didirikannya. Dimana jemaat Filipi ini sangat benyak memberikan bantuan dan dukungan terhadap Paulus baik pada waktu ia di penjara maupun pada saat pemberitaan Injil (pasal 1:7). Paulus sangat bersukacita karena dukungan dan kesetiaan jemaat Filipi terhadap pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Paulus. Mengingat banyaknya pengajar-pengajar sesat yang muncul dan berusaha untuk mempengaruhi dan menyesatkan orang-orang Kristen utamanya jemaat Filipi, Paulus menasehatkan mereka supaya berhati-hati dan waspada terhadap semuanya itu sehingga jangan sampai menyesatkan mereka.

Oleh sebab itu Paulus berdoa dengan penuh kerinduan supaya jemaat Filipi memiliki kasih yang makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segalah macam pengertian, sehingga mereka dapat memil;ih apa yang baik, dengan demikian mereka akan hidup dan melangkah sesuai dengan Firman Tuhan. Dan saat ini saya yakin bahwa kita juga memiliki kerinduan supaya kasih Kristus semakin melimpah dan memiliki pengetahuan dalam segalah macam pengertian dalam kehidupan kita, sehingga kita dapat juga melangkah dan hidup benar dalam menjalani kehidupan ini.

Setiap orang yang hidup mengasihi Tuhan, akan diberi pengetahuan yang benar dengan penuh pengertian, sehingga iamelangkah sesuai dengan Firman Tuhan.”

Bagaimana caranya supaya kita dapat berpikir seperti Paulus ?

1. Meninggalkan segalah kebanggan diri (4-9).

Kata “kebanggaan” (bangga) artinya kebesaran diri, kemegahan diri, atau sesuatau yang membuat seseorang bermegah, dan berbesar hati. Jadi meninggalkan kebanggaan diri memiliki pengertian bahwa melepaskan dan membuang segalah sesuatu yang kita miliki dan dapat membuat kita untuk bermegah atau berbasar hati. Sebelum Paulus menjadi orang Kristen, dalam hidupnya terlihat empat macam kesombongan yaitu pada ayat 5-6 :

a. Kesombongan karena keturunannya: orang Ibrani asli, disunat pada hari ke-8.

b. Kesombongan kerena ia menaati hokum Taurat dengan teliti atau dengan kata lain betul-betul taat kepada Agama.

c. Kesombongan karena ia seorang yang giat dan berjerih payah dalam menjalankan agamanya.

d. Kesombongan karena kebenaran diri sendiri.

Paulus mengatakan “tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (ay.7). ayat ini menunjukkan hal yang kontras dengan ayat sebelumnya. Di sini Paulus menjelaskan bahwa kebenaran yang ia percaya dahulu yaitu tentang kebenara dalam mentaati hukum Taurat hal itu menjadi kebangaan dalam dirinya tetapi setelah berada dalam Kristus ia menganggap semuanya itu sesuatu yang tidak berfaedah tetapi itu adalah kerugian baginya. “pengenalan akan Kristus” (:8), merubah konsep pikiran Paulus sehingga berbalik dari kepercayaan terhadap Hukum Taurat menjadi tunduk pada hukum anugerah yaitu kepercayaan dala Yesus Kristus. Tentang pengenalan akan Kristus ini, Mattew Henry menjelaskan bahwa “exellency of knowledge” yaitu pengetahuan yang muliah, lain dari pada yang lain, dan pengetahuan di atas segalah pengetahuan tentang alam semesta. Jadi pengenalan yang dirasakan oleh Paulus bukanlah pengenalan yang biasa-biasa saja tetapi pengenalan itu adalah pengenalan yang sangat luar biasa yang dirasakannya.

Betapa pentingnya pengenalan akan Kristus ini untuk menjadi bagian dalam setiap kehidupan kita. Oleh sebab itu, marilah kita meninggalkan dan membuang segalah kebanggaan yang ada dalam diri kita yang membuat kita sombong, dan segalah macam yangmenjadi penghalang bagi kita untuk datang kepada Kristus.

2. Berusaha mengenal Kristus dan kuasa-Nya (10-11).

Berusaha memiliki pengertian bahwa suatu tindakan untuk mencapai keinginan atau cita-cita. Paulus mengatakan “yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan, diman akumenjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya…” (ay 10). Kata “yang kukehendaki” menunjukkan suatu kerinduan, keinginan, dan hasrat oleh Rasul Paulus. Rasul Paulus adalah orang yang tidak pernah puas dengan pengenalan nya akan Kristus. Itulah sebabnya ia terus merindukan persekutuan yang lebih erat dengan Kristus dan senantiasa berhasrat untuik mengenal Kristus dengan lebih lagi yaitu melalui pengalamannya. Pengenalan akan Kristus ialah pengenalan yang hidup, maju, dan tidak terbatas untuk kita pahami. Kuasa kebangkita Kristus melepaskan kita dari pada dosa dan kematian, bahkan memberi kemenangan atas dosa dan kematian itu, membangkitkan kita dari pada kematian dosa dan memindahkan kita kedalam hidup yang baru di dalam Kristus. Mengenai persekutuan dan penderitaan-Nya, Paulus mengehndaki supaya ia terus mengambil bagian di dalamnya sehingga serupa dalam kematian-Nya, dan beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

Kuasa Tuhan tidak terbatas dan tak terpahami akan hikmat kita, oleh sebab itu marilah kita berlombah-lombah untuk lebih mengenal Dia dan kuasa-Nya. Kita jangan takut untuk menderita dalam mengiring Dia, karena dengan adanya penderitaan kita dilayakkan untuk mengambil bagian dalam penderitaan-Nya dan dengan demikian kita dapat memperoleh persekutuan yang erat dengan-Nya dan merasakan akan kuasa-Nya yang mulia.

3. Terus berlari untuk memperolah hadiah (12-14).

Terus berlari artinya tidak pernah berhenti. Sebagai seorang atlet, untuk memperoleh suatu hadiah ia tidak akan pernah berhenti berlari tetapi akan terus berlari dan berusaha dengan segala macam cara untuk mencapai garis akhir. Inilah yang dilakukan oleh Rasul Paulus, ia menjadikan dirinya sebagai seoarang atlet, yang terus berlari untuk memperoleh hadiah. Dalam bagian ini ada dua kata yang perluh diperhatikan yaitu “ditangkap” dan “menangkap”. Paulus telah ditangkap Kristus sebab Yesus Kristus mempunyai maksud dan tujuan dalam hidupnya yaitu menjadi seorang pemberita Injil. Oleh sebab itu Paulus memiliki kerinduan dalam hidupnya supaya menangkap maksud dan tujuan Kristus dalam hidupnya. Untuk memperoleh hal ini apa yang dilakukan Paulus ? “aku melupakan apa yang telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk meperolah hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (ay 13b-14).

Paulus senantiasa melihat kehidupa dihadapannya yanglebigh mulia dan lebih sempurna, dan itulah yang ingin dicapainya. Paulus merasakan dan mengetahui apa yang menjadi maksud dan tujuan Kristus dalam hidupnya. Itulah sebannya ia memiliki sikap yang optimis yaitu terus berfokus memandang kedepan pada hadiah yang telah disediakan baginya. Oleh karena itu marilah kita sungguh-sungguh memiliki kerinduan yang sama seperti kerinduan Rasul Paulus. Untuk menagkap kesempurnaan itu, sebagaman kita masing-masing sudah ditangkap oleh Kristus untuk menjadi pemberita Injil dan supaya menjadi sempurna dan serupa dengan Dia.

Jumat, 05 Maret 2010

KUNCI HIDUP BERKEMENANGAN
















KUNCI HIDUP BERKEMENANGAN
1 TAWARIKH 14: 8-17

Adapun yang menjadi tujuan ditulisnya kitab Tawarikh adalah untuk menghubungkan orang-orang Yahudi buangan yang kembali dengan nenek moyang dan sejarah penebusan mereka. Dengan demikian, Tawarikh menggarisbawahi tiga pokok; Pentingnya pelestarian warisan kebangsaan dan rohani bagi orang Yahudi; Pentingnya hukum Taurat, bait suci, dan keimaman dalam hubungan mereka yang terus-menerus dengan Allah, jauh lebih penting dari kesetiaan kepada raja duniawi; dan Pengharapan ultima Israel dalam janji Allah akan seorang Mesias dari keturunan Daud untuk duduk di atas takhta selama-lamanya (1Taw 17:14). Dan yang menjadi tema 1 Tawarikh ini yaitu Sejarah “Penebusan” Israel. Tanggal penulisan dari kitab ini sekitar 450-420 SM dan banyak penafsir mengatakan bahwa penulis dari kitab ini adalah Ezra. Karena 1 dan 2 Tawarikh ditulis dari perspektif seorang imam dan mungkin juga pada masa hidup Ezra, dan karena ayat-ayat penutup 2 Tawarikh (1Taw 36:22-23) diulang kembali dalam Ezr 1:1-3, tradisi Talmud bahwa Ezra adalah "penulisnya" dikuatkan.
Ketika Saul meninggal, Daud tidak turut berperang melawan Israel waktu pertempuran di Gilboa (1 Sam 28:4) dimana Saul dan anak-anaknya terbunuh. Sesudah Saul meninggal, maka Daud memegang tongkat kerajaan Israel dan diapun menjadi raja atas Israel (1 Taw 11:1-3). Namun banyak hal yang menanti Daud di depan, yaitu orang Filistin ingin menangkap Daud. Dalam pasal 14:8-17 berbicara tentang bagaimana Daud memukul kalah tentara orang Filistin, ketika orang Filistin mengadakan penyerbuan di Lembah Refaim.

KUNCI HIDUP BERKEMANGAN ADALAH HIDUP BERGAUL DENGAN TUHAN DAN

1. MELANGKAH DENGAN IMAN KITA KEPADA TUHAN.

Apa yang menjadi kunci kemengan Daud pada saat ia menghadapi tentara Filistin?
Ia Hidup Bergaul Dengan Tuhan (ay.10,14,).
Dalam BIS ayat 10 berbunyi, “Mendengar itu Daud bertanya kepada Allah, "TUHAN, haruskah saya menyerang orang-orang Filistin itu? Apakah TUHAN akan memberikan kemenangan kepada saya?" "Ya, seranglah!" jawab TUHAN. "Aku akan memberikan kemenangan kepadamu!". Dari ayat ini, menyatakan bahwa, Raja Daud memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan, Daud hidup bergaul dengan Tuhan dan Daud memiliki persekutuan doa kepada Tuhan. Dalam segala sesuatu yang Daud mau lakukan, Daud selalu bertanya kepada Tuhan. Ketika Daud diangkat menjadi raja, ia tidak langsung menjadi orang yang sombong dengan apa yang terjadi atas dirinya, nemun ia tetap hidup bergaul dengan Tuhan.
Sebenarnya, kalau dipikir secara manusia, Daud bisa saja berperang sendiri, dia tidak perlu Tanya Tuhan. Mengapa? Karena kalau kita melihat pasal-pasal sebelumnya, dimana pada pasal 11 dan pasal 12 disitu membicarakan tentang banyaknya para pahlawan-pahlawan Daud yang hebat. Misalnya saja Yasobam bin Hakhmoni, ia mengayunkan tombaknya saja melawan 300 orang tertikam mati dalam satu pertempuran (1 Taw.11:11), Benaya bin Yoyada, dia seorang yang gagah perkasa (1 Taw.11:22-23), ada juga orang Gad yang gagah perkasa dan rupa mereka seperti singa serta cepat seperti kijang (1 Taw.12:8) dan masih banyak lagi orang-orang Daud yang hebat. Namun satu hal yang harus kita perhatikan, yaitu Daud sama sekali tidak berharap ataupun mengandalkan para pahlawannya itu, tetapi Daud bertanya kepada Tuhan. Ini membuktikan bahwa Daud benar-benar hanya berharap kepada Tuhan saja dan ia hidup bergaul dengan Tuhan lewat persekutuannya.
Di dalam dunia yang penuh dengan segala macam tantangan dan cobaan ini, sangatlah penting bagi kita semua untuk mengetahui apa yang Tuhan inginkan atas hidup kita. Apakah kita pernah bertanya kepada Tuhan, apa yang sebenarnya Ia inginkan dari hidup kita? Apakah pernah kita bertanya kepada Tuhan, apa yang menjadi rencana-Mu dalam hidup kita ini? Apakah kita memiliki persekutuan dengan Tuhan? Marilah kita belajar dari Daud. Ketika orang Filistin mendengar bahwa Daud telah diurapi menjadi raja atas seluruh Israel, maka majulah semua orang Filistin untuk menangkap Daud. Lalu Daud bertanya kepada Tuhan apa yang harus diperbuatnya, “Apakah aku harus maju?” tanya Daud. Lalu Tuhan menjawabnya, “Majulah”. Daud melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya, dan ia memukul kalah orang Filistin. Lalu di ayat yang ke-13-14, sekali lagi orang Filistin datang menyerbu Daud, dan sekali lagi Daud bertanya kepada Tuhan apa yang harus diperbuatnya, Tuhan menginstruksi Daud untuk tidak menyerbu dan memerikanya strategi lain (I Taw. 14: 14, 15). Daud mengikuti apa yang dikatakan oleh Allah kepadanya, dan sekali lagi Daud memperoleh kemenangan atas orang Filistin. Dalam hidup ini, marilah kita maup hidup bergaul dengan Tuhan dan biarlah kehenadak Tuhan yang terjadi atas hidup kita, maka kita akan melihat kemenangan-kemengan dalam hidup kita.
2. Ia Melangkah Dengan Iman kepada Tuhan (ay.11, 16).
Ketika Daud hidup bergaul dengan Tuhan, pasti Daud kenal siapa Tuhan yang ia sembah. Daud percaya kepada Tuhan, dia melangkah dengan iamannya dan dia tahu Tuhan akan memberikan kepadanya kemenagan.
Dan pada ayat ke 11, merupakan hasil dari hubungan Daud kepada Tuhan. Dalam BIS ay.11 ”Maka Daud dan pasukannya menyerang orang-orang Filistin itu di Baal-Perasim dan mengalahkan mereka. Berkatalah Daud, "Allah telah memakai aku untuk mendobrak pertahanan musuh seperti banjir merobohkan segalanya dalam seketika." Itu sebabnya tempat itu disebut Baal-Perasim. Ketika Daud mengalahkan orang Filistin, ia tidak langsung sombong dengan apa yang telah terjadi, namun ia berkata ”Allah telah memakai aku...”. Daud selalu melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya, dan tidak ada kata protes yang keluar dari mulutnya. Dan ketika Daud melangkah dengan imannya kepad Tuhan, maka dalam ayat 16 ”mereka memukul kalah tentara orang Filistin.....”, bahka bukan hanya itu saja, termasyurlah nama Daud dan Tuhan mendatangkan rasa takut kepadanya atas segala bangsa. Luar biasa apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup raja Daud, itu semua karena ia melangkah dengan iamanya kepad Tuhan.
Dalam hidup ini, banyak hal yang terjadi, banyak hal yang akan kita alami. Suka dan duka pasti kita akan rasakan, kekahwatiran, sakit, masalah, tantangan hidup dan sebagainya, itu pasti kita akan dapatkan, namun satu hal yang perlu kita perhatikan bahwa marilah kita menghadapi semua itu dengan percaya bahwa Tuhan akan menolong kita, memampukan kita, dan percaya Tuhan akan memberikan kepada kita kemenangan-kemengan itu dalam hidup kita.
Seperti yang di alami raja Daud, ketika ia hidup bergaul dengan Tuhan dan ia melangkah dengan imannya kepada Tuhan, ia memperoleh kemenangan dalam Tuhan.

AMIN.

Kamis, 04 Maret 2010

AKU PANGGIL DIA BAPA


Nama : Jefpri Harahap


AKU PANGGIL DIA BAPA



Perikop Pembahasan (ROMA 8:14-17)

Introduksi Surat Roma ini merupakan surat yang paling panjang dan paling Tolongis serta berpengaruh. Mengapa surat Roma ini sangat berpengaruh, karena di dalam kitab Roma ini menjelaskan tentang karya penebusan Kristus dan penebusan yang di kerjakan Yesus bagai manusia, dan pemilihan dan pembenaran. Surat Roma ini di tujukan kepada orang-orang percaya yang ada di Roma pada saat itu (Rom 1:7). Dan melalui surat Roma ini Rasul Paulus menyakinkan orang percaya, bahwa Rasul Paulus sudah berkali merencanakan untuk datang kepada mereka untuk membritakan Injil kepada mereka, namun hingga saat itu kedatangganya terhalang (Rom 1:13-15; 15:22). Dari ayat ini memberikan pemahaman bahwa Rasul Paulus memiliki kerinduan yang sangat nyata, dan bukan sekedar omongan,namun di sertai dengan tindakannya. Rasul Paulus menuliskan surat Roma ini, menjelang akhir perjalanannya missinya yang ketiga (Roma 15:25-26; Kis 20:2-3; 1Kor 16:5-6), dan surat Roma ini di tulis ketika berada di korintus di rumah Gayus (Rom 16:23).

Kalimat Penghubung Dengan memanggil Dia Bapa kita, berarti kita sebagai anak harus mempercayakan diri sepenuhnya kepada Dia, karena Dia Bapa yang penuh kasih dan penuh kasih sayang. Dengan menyadari hal demikian. Jika kita bahwa kita adalah anak-Nya, pasti kita akan menuruti apa maunya Tuhan dalamhati kita.

Maksud dan Tujuan Supaya setiap orang mengerti bahwa hanya Dia Bapa yang baik. Dan yang pantas di sebut bapa yang penuh kasih. Dan seorang bapa yang penuh kasih rela meti untuk anak-Nya. Yesus sebagai bapa kita, ”Dia rela mati kita anak-ana-Nya.”

Kalimat Transisi Mengapa kita sebut Dia Bapa

Proposisi Berita ”Hanya Oleh Dorongan Kusah Roh Kududlah Yang akan Memampukan kita untuk menyebut Dia Bapa”

PENJABARAN BERITA:

1. KARENA KITA DISEBUT ANAK (ayat 14-15)


Itroduksi Poin Jika melihat ayat 14-15,ini memberikan penjelasan bahwa yang di sebut itu anaknya Allah yaitu orang yang di pimpin oleh Roh Allah. Jadi orang yang tidak di pimpin oleh roh Allah berarti bukan Anak. Jadi yang di sebut adalah anak Allah, berarti Roh Allah berdiam di dalam hatinya, dan Roh Allah tersebut akan menuntun dan mengarahkan mereka sesuai dengan apa yang Tuhan mau di dalam hati anaknya, seperti berpikir dengan baik, berbicara dengan baik, dan juga bertindak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Jadi jika kita di lanyakkan Allah sebagai anak berarti itu semua karena Anugrah-Nya semata-mata di berikan pada kita. Kita di sebut anak bukan karena kita pintar, kuat, kaya, putih dan lain sebagainya. Namun karena kasihnya yang begitu besar bagi kita. Allah sebagai bapa, Dia Bapa yang penuh kasih sayang

Jadi kita yang diberikan kepercayaan untuk menyebut Dia Bapa, haruslah kita mau dituntun dan di arahkan sesuai dengan kehendaknya. Jika sebagai anak harus menuruti apa yang Bapa mau dalam kehidupan kita. Dan bukan kehendak kita yang harus di turuti oleh bapa. Namun kita yang harus menuruti perintah Bapa

Kalimat Penghubung Allah yang penuh dengan kasih seyang, dia membutuhkan sebuah keluarga, dan Dia menciptakan kita untuk bagian di dalamnya. Inilah tujuan Allah bagi kehidupan kita. Dia rancangkan kita sebelum kita di lahirkan, “ Rancangan-Nya yang tidakpernah berubah sejak semula ialah mengankat kita menjadi anak-Nya.

Pelitian/Analisa ayat Dalam KJV Roma 8:14 ini berbunyi demikian “ Karena sebanyak yang dipimpin oleh roh Tuhan, mereka adalah putra Tuhan. Dan Barnes juga memberikan penjelasan yang sama dengan KJV. Jika kita melihat kata “sebanyak” di sini οσος (hosos) pengandaan, yang di adopsi sedangkan kata “dipimpin” di sini αγω (ago) kata ini adalah suatu kata kerja utama,yang baik untuk kata memimpin dengan implikasi untuk membawa, mengemudi, mempengaruhi dan menuntun serta memelihara dengan baik.

Penjabaran Berita Jadi sangat jelas sekali tugas dan tanggung jawab seorang bapa itu terhadap anak yang Ia kasihi. Dengan kasih-Nya yang begitu besar bagi kita, sehingga kita bisa berseru kepadanya “Ya Abba,Ya Bapa. Roh Kudus memberikan kepada kita kepastian bahwa melalui Kristus kita di sebut anak Allah (ayat 15). Dia menjadikan nyata bahwa Kristus mengasihi kita. Jika kita melihat kebali siapakah kita ini? Sehingga Tuhan memilih kita jadi anak-Nya? Yang dulunya kita bukan umat Allah, tetapi sekarang Tuhan menjadikan kita umat-Nya bahkan di sebut anak-Nya (I Pet 1:10). Allah sangat menyatakan kasih-Nya kepada kita melalui kematiannya,sehingga kita beroleh keselamatan dan kita lanyak memanggil Dia Bapa.

Renungkan: Marilah sadar bahawa oleh karena kasih-Nya pada kita, sehingga kita di lanyakkan untuk memanggil Dia Bapa.

Penegasan Ulang Dia sebagai Bapa yang baik, pasti Dia mengetahui segala apa yang ada di dalam hati kita.

Aplikasi Kita harus menyadari bahwa kita bisa menyebut Dia Bapa, karena itu semua karena kasih saying-Nya, yang mau memilih kita dan yang mau mengadopsi kita sebagai anak-Nya. Jadi kesadaran yang kita miliki itu akan membawa kita pada pengenalan yang sesungguhnya bahwa Yesuslah Bapa yang baik.

2. KARENA KITA DITENTUKAN-NYA MENJADI AHLI

WARISNYA (ay 17)

Itroduksi Poin Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa kehidupan yang berkemenangan di dalam Roh bukanlah suatu jalan yang mudah di lewati, karena menjadi pemenang membutuhkan perjuangan yang tidak ngampang untuk menyerah. Yesus menderita bagi kita, dan kita sebagai pengikutnya, harus ikut serta menderita bersama dengan Dia (Fil 3:10, II Tim 2:12-13). Jika kita menderita bersama-sama dengan Kristus, itu merupakan suatu akibat dari hubungan kita dengan Allah sebagai anak. Allah memberikan kepastian bagi kita yaitu menjadi ahli waris-Nya. Jka Allah memberikan kepastian demikian bagi kita, kita harus ikut serta mau ikut menderita bersama-sama dengan Dia, serta kita akan menerima janji-janji Allah (ay 17c).

Kalimat Penghubung Allah menetapkan kita sebagai anak, dan Dia juga memastikan kita sebagai ahli warisnya. Allah sebagai pemilik yang ada didunia ini, kita sebagai anak, kita juga ikut memilikinya, karena Allah sudah memilih kita sebagai anak

Pelitian/Analisa ayat jika kita kata ahli waris di sini dalambahasa aslinya συγκληρονόμος (sugkleronomos) yang berarti penerima warisan, pengikut sambung, sebagai sambungan mewarisi. Kita sebagai anak yang Tuhan adopsi, di lanyakkan menjadi ahli waris dari pada Allah. Dan kita sebagai anak yang Tuhan pilih, kita berhak menerima janji-janji Allah tersebut, karena Allah sudah memmilih dan menetapkan kita jadi anak.

Penjabaran Berita Kalau kita melihat dalam ayat 17 ini sangat jelas sekali, memberikan pemahaman bahwa Allah menyatakan “ setiap orang yang dipimpin oleh Roh-Nya dan menderita bersama-sama dengan Dia, Allah menjadikan dia menjadi ahli waris dan berhak janji-janji Tuhan yang sudah di tetapkan. Jadi kita sebagai anak harus menyadari dan bahwah Allah sangat mengasihi kita. Allah yang penuh kasih, mau mengankat kita dan menjadikan anak-Nya.

KESIMPULAN

“Oleh karena itu, marilah kita sadari bahwa Tuhan selalu peduli akan kehidupan kita. Karena Dia Bapa yang penuh kasih”